Bell’s palsy (case report)

Posted: April 4, 2010 in dokter
Tag:, , ,

PENDAHULUAN

Bell’s palsy merupakan paresis nervus fasialis perifer yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) 1,2,3 dan bersifat akut.4 Banyak yang mencampuradukkan antara Bell’s palsy dengan paresis nervus fasialis perifer lainnya yang penyebabnya diketahui.1

Biasanya penderita mengetahui kelumpuhan fasialis dari teman atau keluarga atau pada saat bercermin atau sikat gigi/berkumur. Pada saat penderita menyadari bahwa ia mengalami kelumpuhan pada wajahnya, maka ia mulai merasa takut, malu, rendah diri, mengganggu kosmetik dan kadangkala jiwanya tertekan terutama pada wanita dan pada penderita yang mempunyai profesi yang mengharuskan ia untuk tampil di muka umum. Seringkali timbul pertanyaan didalam hatinya, apakah wajahnya bisa kembali secara normal atau tidak.1,2,5

Rehabilitasi medik pada penderita Bell’s palsy diperlukan dengan tujuan membantu memperlancar vaskularisasi, pemulihan kekuatan otot-otot fasialis dan mengembalikan fungsi yang terganggu akibat kelemahan otot-otot fasialis sehingga penderita dapat kembali melakukan aktivitas kerja sehari-hari dan bersosialisasi dengan masyarakat.

DEFINISI

Bell’s palsy adalah kelumpuhan fasialis perifer akibat proses non-supuratif, non-neoplasmatik, non-degeneratif primer namun sangat mungkin akibat edema jinak pada bagian nervus fasialis di foramen stilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramen tersebut, yang mulanya akut dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan.6,7

EPIDEMIOLOGI

Di Indonesia, insiden Bell’s palsy secara pasti sulit ditentukan. Data yang dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55 % dari seluruh kasus neuropati dan terbanyak pada usia 21 – 30 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Tidak didapati perbedaan insiden antara iklim panas maupun dingin, tetapi pada beberapa penderita didapatkan adanya riwayat terpapar udara dingin atau angin berlebihan.1

ETIOLOGI

Banyak kontroversi mengenai etiologi dari Bell’s palsy, tetapi ada 4 teori yang dihubungkan dengan etiologi Bell’s palsy yaitu : 1,5

  1. Teori Iskemik vaskuler

Nervus fasialis dapat menjadi lumpuh secara tidak langsung karena gangguan regulasi sirkulasi darah di kanalis fasialis.

  1. Teori infeksi virus

Virus yang dianggap paling banyak bertanggungjawab adalah Herpes Simplex Virus (HSV), yang terjadi karena proses reaktivasi dari HSV  (khususnya tipe 1).

  1. Teori herediter

Bell’s palsy terjadi mungkin karena kanalis fasialis yang sempit pada keturunan atau keluarga tersebut, sehingga menyebabkan predisposisi untuk terjadinya paresis fasialis.

  1. Teori imunologi

Dikatakan bahwa Bell’s palsy terjadi akibat reaksi imunologi terhadap infeksi virus yang timbul sebelumnya atau sebelum pemberian imunisasi.

PATOFISIOLOGI

Apapun sebagai etiologi Bell’s palsy, proses akhir yang dianggap bertanggungjawab atas gejala klinik Bell’s palsy adalah proses edema yang selanjutnya menyebabkan kompresi nervus fasialis. Gangguan atau kerusakan pertama adalah endotelium dari kapiler menjadi edema dan permeabilitas kapiler meningkat, sehingga dapat terjadi kebocoran kapiler kemudian terjadi edema pada jaringan sekitarnya dan akan terjadi gangguan aliran darah sehingga terjadi hipoksia dan asidosis yang mengakibatkan kematian sel. Kerusakan sel ini mengakibatkan hadirnya enzim proteolitik, terbentuknya peptida-peptida toksik dan pengaktifan kinin dan kallikrein sebagai hancurnya nukleus dan lisosom. Jika dibiarkan dapat terjadi kerusakan jaringan yang permanen.

GAMBARAN KLINIS

Biasanya timbul secara mendadak, penderita menyadari adanya kelumpuhan pada salah satu sisi wajahnya pada waktu bangun pagi, bercermin atau saat sikat gig/berkumur atau diberitahukan oleh orang lain/keluarga bahwa salah satu sudutnya lebih rendah. Bell’s palsy hampir selalu unilateral. Gambaran klinis dapat berupa hilangnya semua gerakan volunter pada kelumpuhan total. Pada sisi wajah yang terkena, ekspresi akan menghilang sehingga lipatan nasolabialis akan menghilang, sudut mulut menurun, bila minum atau berkumur air menetes dari sudut ini, kelopak mata tidak dapat dipejamkan sehingga fisura papebra melebar serta kerut dahi menghilang. Bila penderita disuruh untuk memejamkan matanya maka kelopak mata pada sisi yang lumpuh akan tetap terbuka (disebut lagoftalmus) dan bola mata berputar ke atas. Keadaan ini dikenal dengan tanda dari Bell (lagoftalmus disertai dorsorotasi bola mata). Karena kedipan mata yang berkurang maka akan terjadi iritasi oleh debu dan angin, sehingga menimbulkan epifora.1,6 Dalam mengembungkan pipi terlihat bahwa pada sisi yang lumpuh tidak mengembung.6 Disamping itu makanan cenderung terkumpul diantara pipi dan gusi sisi yang lumpuh.1 Selain kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi, tidak didapati gangguan lain yang mengiringnya, bila paresisnya benar-benar bersifat “Bell’s palsy”.6

DIAGNOSA

Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa serta beberapa pemeriksaan fisik, dalam hal ini yaitu pemeriksaan neurologis.

v     Anamnesa :

–         Rasa nyeri.

–         Gangguan atau kehilangan pengecapan.

–         Riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada malam hari di ruangan terbuka atau di luar ruangan.

–         Riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti infeksi saluran pernafasan, otitis, herpes, dan lain-lain.

v     Pemeriksaan :

–         Pemeriksaan neurologis ditemukan paresis N.VII tipe perifer.

–         Gerakan volunter yang diperiksa, dianjurkan minimal : 6,8

  1. Mengerutkan dahi
  2. Memejamkan mata
  3. Mengembangkan cuping hidung
  4. Tersenyum
  5. Bersiul
  6. Mengencangkan kedua bibir

v     Di instalasi Rehabilitasi Medik RSU Prof. dr. R. D. Kandou memakai SKALA UGO FISCH untuk mengevaluasi kemajuan motorik penderita Bell’s palsy.

SKALA UGO FISCH

Dinilai kondisi simetris atau asimetris antara sisi sehat dan sisi sakit pada 5  posisi :

Posisi Nilai Persentase (%)

0, 30, 70, 100

Skor
Istirahat 20
Mengerutkan dahi 10
Menutup mata 30
Tersenyum 30
Bersiul 10
Total

Penilaian persentase :

–  0 %     :   asimetris komplit, tidak ada gerakan volunter

–  30 %   : simetris, poor/jelek, kesembuhan yang ada lebih dekat ke asimetris komplit daripada simetris normal.

–  70 %   : simetris, fair/cukup, kesembuhan parsial yang cenderung ke arah normal

–  100%                             :  simetris, normal/komplit

Diagnosa Klinis : Ditegakkan dengan adanya paresis N.VII perifer dan bukan sentral. Umumnya unilateral

Diagnosa Topik :

Letak Lesi Kelainan motorik Gangguan pengecapan Gangguan pendengaran Hiposekresi saliva Hiposekresi lakrimalis
Pons-meatus akustikus internus + + + tuli/hiperakusis + +
Meatus akustikus internus-ganglion genikulatum + + +

Hiperakusis

+ +
Ganglion genikulatum-N. Stapedius + + +

Hiperakusis

+
N.stapedius-chorda tympani + + + +
Chorda tympani + + +
Infra chorda tympani-sekitar foramen stilomastoideus +

Diagnosa etiologi : Sampai saat ini etiologi Bell’s palsy yang jelas tidak diketahui.

DIAGNOSA BANDING 1,6

  1. Otitis Media Supurativa dan Mastoiditis
  2. Herpes Zoster Oticus
  3. Trauma kapitis
  4. Sindroma Guillain – Barre
  5. Miastenia Gravis
  6. Tumor Intrakranialis
  7. Leukimia

PROGNOSIS 9

Sembuh spontan pada 75-90 % dalam beberapa minggu atau dalam 1-2 bulan. Kira-kira 10-15 % sisanya akan memberikan gambaran kerusakan yang permanen.

KOMPLIKASI

  1. Crocodile tear phenomenon

Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan. Ini timbul beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari regenerasi yang salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.­1

  1. Synkinesis

Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri; selalu timbul gerakan bersama. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata, maka akan timbul gerakan (involunter) elevasi sudut mulut, kontraksi platisma, atau berkerutnya dahi.1,4 Penyebabnya adalah innervasi yang salah, serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan serabut-serabut otot yang salah.1

  1. Hemifacial spasm

Timbul “kedutan” pada wajah (otot wajah bergerak secara spontan dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah, biasanya ringan.1,4 Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah saja, tetapi kemudian dapat mengenai pada sisi lainnya. Kelelahan dan kelainan psikis dapat memperberat spasme ini. Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna, yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun kemudian.1

  1. Kontraktur

Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga lipatan nasolabialis lebih jelas terlihat pada sisi yang lumpuh dibanding pada sisi yang sehat. Terjadi bila kembalinya fungsi sangat lambat. Kontraktur tidak tampak pada waktu otot wajah istirahat, tetapi menjadi jelas saat otot wajah bergerak.4

TERAPI

a)      Terapi medikamentosa     :  Golongan kortikosteroid sampai sekarang masih kontroversi 1,2,3 Juga dapat diberikan neurotropik.3

b)      Terapi operatif                 :  Tindakan bedah dekompresi masih kontroversi 1,2

c)      Rehabilitasi Medik

REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA BELL’S PALSY

Sebelum kita membahas mengenai rehabilitasi medik pada Bell’s palsy maka akan dibicarakan mengenai rehabilitasi secara umum. Rehabilitasi medik menurut WHO adalah semua tindakan yang ditujukan guna mengurangi dampak cacat dan handicap serta meningkatkan kemampuan penyandang cacat mencapai integritas sosial.

Tujuan rehabilitasi medik adalah : 10

  1. Meniadakan keadaan cacat bila mungkin
  2. Mengurangi keadaan cacat sebanyak mungkin
  3. Melatih orang dengan sisa keadaan cacat badan untuk dapat hidup dan bekerja dengan apa yang tertinggal.

Untuk mencapai keberhasilan dalam tujuan rehabilitasi yang efektif dan efisien maka diperlukan tim rehabilitasi medik yang terdiri dari dokter, fisioterapis, okupasi terapis, ortotis prostetis, ahli wicara, psikolog, petugas sosial medik dan perawat rehabilitasi medik.

Sesuai dengan konsep rehabilitasi medik yaitu usaha gabungan terpadu dari segi medik, sosial dan kekaryaan, maka tujuan rehabilitasi medik pada Bell’s palsy adalah untuk mengurangi/mencegah paresis menjadi bertambah dan membantu mengatasi problem sosial serta psikologinya agar penderita tetap dapat melaksanakan aktivitas kegiatan sehari-hari. Program-program yang diberikan adalah program fisioterapi, okupasi terapi, sosial medik, psikologi dan ortotik prostetik, sedang program perawat rehabilitasi dan terapi wicara tidak banyak berperan.

v     Program Fisioterapi

  1. Pemanasan 1, 10
    1. Pemanasan superfisial dengan infra red.
    2. Pemanasan dalam berupa Shortwave Diathermy atau Microwave Diathermy
  2. Stimulasi listrik 1,8

Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot untuk mencegah/memperlambat terjadi atrofi sambil menunggu proses regenerasi dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya dengan faradisasi yang tujuannya adalah untuk menstimulasi otot, reedukasi dari aksi otot, melatih fungsi otot baru, meningkatkan sirkulasi serta mencegah/meregangkan perlengketan. Diberikan 2 minggu setelah onset.

  1. Latihan otot-otot wajah dan massage wajah

Latihan gerak volunter otot wajah diberikan setelah fase akut. Latihan berupa mengangkat alis tahan 5 detik, mengerutkan dahi, menutup mata dan mengangkat sudut mulut, tersenyum, bersiul/meniup (dilakukan didepan kaca dengan konsentrasi penuh).

Massage adalah manipulasi sitemik dan ilmiah dari jaringan tubuh dengan maksud untuk perbaikan/pemulihan. Pada fase akut, Bell’s palsy diberi gentle massage secara perlahan dan berirama. Gentle massage memberikan efek mengurangi edema, memberikan relaksasi otot dan mempertahankan tonus otot.1,3 Setelah lewat fase akut diberi Deep Kneading Massage sebelum latihan gerak volunter otot wajah. Deep Kneading Massage memberikan efek mekanik terhadap pembuluh darah vena dan limfe, melancarkan pembuangan sisa metabolik, asam laktat, mengurangi edema, meningkatkan nutrisi serabut-serabut otot dan meningkatkan gerakan intramuskuler sehingga melepaskan perlengketan.11 Massage daerah wajah dibagi 4 area yaitu dagu, mulut, hidung dan dahi. Semua gerakan diarahkan keatas, lamanya 5-10 menit.

v     Program Terapi Okupasi

Pada dasarnya terapi disini memberikan latihan gerak pada otot wajah. Latihan diberikan dalam bentuk aktivitas sehari-hari atau dalam bentuk permainan. Perlu diingat bahwa latihan secara bertahap dan melihat kondisi penderita, jangan sampai melelahkan penderita. Latihan dapat berupa latihan berkumur, latihan minum dengan menggunakan sedotan, latihan meniup lilin, latihan menutup mata dan mengerutkan dahi di depan cermin.5

v     Program Sosial Medik

Penderita Bell’s palsy sering merasa malu dan menarik diri dari pergaulan sosial. Problem sosial biasanya berhubungan dengan tempat kerja dan biaya. Petugas sosial medik dapat membantu mengatasi dengan menghubungi tempat kerja, mungkin untuk sementara waktu dapat bekerja pada bagian yang tidak banyak berhubungan dengan umum. Untuk masalah biaya, dibantu dengan mencarikan fasilitas kesehatan di tempat kerja atau melalui keluarga. Selain itu memberikan penyuluhan bahwa kerja sama penderita dengan petugas yang merawat sangat penting untuk kesembuhan penderita.5

v     Program Psikologik

Untuk kasus-kasus tertentu dimana ada gangguan psikis amat menonjol, rasa cemas sering menyertai penderita terutama pada penderita muda, wanita atau penderita yang mempunyai profesi yang mengharuskan ia sering tampil di depan umum, maka bantuan seorang psikolog sangat diperlukan.5

v     Program Ortotik – Prostetik

Dapat dilakukan pemasangan “Y” plester dengan tujuan agar sudut mulut yang sakit tidak jatuh. Dianjurkan agar plester diganti tiap 8 jam. Perlu diperhatikan reaksi intoleransi kulit yang sering terjadi. Pemasangan “Y” plester dilakukan jika dalam waktu 3 bulan belum ada perubahan pada penderita setelah menjalani fisioterapi. Hal ini dilakukan untuk mencegah teregangnya otot Zygomaticus selama parese dan mencegah terjadinya kontraktur.

HOME PROGAME

  1. Kompres hangat daerah sisi wajah yang sakit selama 20 menit
  2. Massage wajah yang sakit ke arah atas dengan menggunakan tangan dari sisi wajah yang sehat
  3. Latihan tiup lilin, berkumur, makan dengan mengunyah disisi yang sakit, minum dengan sedotan, mengunyah permen karet
  4. Perawatan mata :
    1. Beri obat tetes mata (golongan artifial tears) 3x sehari
    2. Memakai kacamata gelap sewaktu bepergian siang hari
    3. Biasakan menutup kelopak mata secara pasif sebelum tidur

LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama                              :   Tn. P S

Umur                               :   47 tahun

Jenis kelamin                   :   Laki-laki

Alamat                            :   Tuminting

Pekerjaan                        :   Wiraswsta

Agama                            :   Islam

Tanggal Pemeriksaan       :   22 April 2008

ANAMNESIS

Keluhan utama : kekakuan di pipi di bawah muka

Riwayat Penyakit Sekarang

Mulut tertarik ke kiri dialami penderita sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya penderita merasa lidahnya menebal saat makan siang. Ketika penderita bangun pagi keesokan harinya, penderita merasa mulutnya seperti tertarik ke kiri, lalu penderita bercermin dan melihat mulutnya miring/tertarik ke kiri. Bersamaan dengan itu, mata penderita tidak bisa menutup rapat sehingga terasa pedih bila terkena air dan angin. Selain itu mata kanan penderita berair terus.

Bila penderita makan, makanan cenderung berkumpul di sisi kanan. Bila penderita minum/berkumur, air keluar menetes dari sudut mulut kanan. Bibir terasa kering dan pecah-pecah. Influensa dan nyeri di belakang telinga disangkal oleh penderita. Penderita tidak mengalami gangguan pengecapan ataupun gangguan pendengaran. Penderita mengaku terpapar udara dingin pada malam hari karena letak kamar mandi/WC ada di luar rumah. Sebelumnya penderita berobat ke praktek dokter umum, tetapi tidak ada perubahan. Lalu penderita datang ke RSU Prof. dr. R. D. Kandou bagian poli Saraf dan dirujuk ke bagian Rehabilitasi Medik.

Riwayat Penyakit Dahulu

Sebelumnya penderita belum pernah menderita penyakit seperti ini. Penderita tidak pernah sakit telinga, kecelakaan/jatuh, sakit seperti cacar air ataupun trauma di wajah/sekitar telinga. Hipertensi (-), Diabetes Mellitus (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Hanya penderita yang sakit seperti ini

Riwayat Sosial Ekonomi

Penderita seorang janda, pengungsi, dan mempunyai 1 orang anak dalam tanggungan. Saat ini penderita tinggal di rumah tetangga dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Rumah permanen, berlantai ubin, 4 buah kamar tidur, dihuni oleh 5 orang, KM/WC jongkok (khusus untuk penderita dan anaknya) berada di luar rumah, menggunakan air sumur pompa dan PLN. Biaya pengobatan penderita ditanggung sendiri.

PEMERIKSAAN

Keadaan umum            :  Baik

Kesadaran                    :  Compos mentis, kontak (+), pengertian baik

Tanda vital                    :  T : 150/90 mmHg, N : 80x /menit, R : 20 x/menit, SB : aterm

Kepala                         :  Konjungtiva anemis /, sclera icterus /

Leher                           :  Trakea di tengah, pembesaran kelenjar (-)

Status Internus              :  Dalam batas normal

Status neurologis           : Nervus kranialis I – XII dalam batas normal, kecuali N.VII dextra tipe perifer

Status lokalis N.VII      :

Dextra              Sinistra

Mengerutkan dahi                                    –                          +

Menutup mata                                         –                          +

Mengangkat sudut bibir                            –                          +

Tersenyum                                               –                          +

Pengecapan rasa manis                        (+) N                 (+) N

SKALA UGO FISCH

Posisi Nilai Persentase (%)

0, 30, 70, 100

Skor
Istirahat 20 70 14
Mengerutkan dahi 10 30 3
Menutup mata 30 70 21
Tersenyum 30 30 9
Bersiul 10 30 3
Total 50

Mata Kanan :   Lagoftalmus 3 mm

Epifora (+)

DIAGNOSIS

Diagnosa klinis  :  Bell’s palsy dextra

Diagnosa topik :  Sekitar foramen stilomastoideus

Diagnosa etiologi          :  Idiopatik

TERAPI MEDIKAMENTOSA

  1. Golongan kortikosteroid
  2. Neurotropik

PROBLEM REHABILITASI MEDIK

  • Kelumpuhan otot wajah :

–     Sudut mulut tertarik ke kiri

–     Kelopak mata kanan tidak bisa menutup rapat dengan baik

  • Gangguan dalam AKS otot-otot wajah :

–     Pada saat makan, makanan cenderung berkumpul di sisi kanan

–     Pada saat minum/berkumur, air keluar menetes dari sudut mulut kanan

  • Gangguan psikologis, penderita merasa malu dengan keadaan ini
  • Gangguan sosial ekonomi yaitu masalah biaya pengobatan

PROGRAM REHABILITASI MEDIK

  1. 1. Fisioterapi

Evaluasi      :    –    Kontak (+), pengertian baik

–    Angkat alis (±), mata kanan tidak bisa menutup rapat dengan baik

–    Sudut mulut tertarik ke kiri

–    Pada saat makan, makanan cenderung berkumpul di sisi kanan

–    Pada saat minum/berkumur, air keluar menetes dari sudut mulut kanan

Program     :    –    Pemanasan superfisial berupa infra red pada wajah sebelah kanan selama 10 menit

–    Deep Kneading Massage sebelum latihan gerak volunter otot wajah, lamanya 5-10 menit

–    Latihan gerak volunter wajah sisi kanan di depan cermin dengan gerakan mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum, bersiul/meniup, mengangkat sudut mulut.

  1. 2. Okupasi Terapi

Evaluasi      :    –    Kontak (+), pengertian baik

–    Angkat alis (±), mata kanan tidak bisa menutup rapat

–   Sudut mulut tertarik ke kiri

–   Pada saat makan, makanan cenderung berkumpul di sisi kanan

–   Pada saat minum/berkumur, air keluar menetes dari sudut mulut kanan

Program     :    –   Latihan penguat otot wajah dengan memberikan latihan menutup mata, mengerutkan dahi, meniup lilin, tersenyum, meringis

–   Latihan meningkatkan aktivitas kerja sehari-hari dengan berkumur, latihan makan dengan mengunyah di sisi kanan, minum dengan sedotan

  1. 3. Psikologi

Evaluasi      :   –    Kontak (+), pengertian baik

–    Penderita merasa sedikit cemas dan malu

–    Keinginan penderita untuk sembuh sangat besar

–    Penderita menjalankan aturan rehabilitasi medik

Program     :   –    Memberikan dorongan mental supaya penderita tidak merasa cemas dan malu dengan penyakitnya

–    Memberikan dorongan mental agar penderita rajin menjalankan program rehabilitasi dan melakukan home progame yang diberikan agar penyakitnya cepat sembuh

  1. 4. Sosial Medik

Evaluasi      :   –    Penderita seorang janda dengan 1 orang anak dalam tanggungan, tinggal dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah tetangga

–    Biaya pengobatan ditanggung sendiri dan ada masalah dengan biaya pengobatannya

Program     :   –    Petugas sosial medik dapat membantu mengatasi masalah biaya dengan menghubungi majikan tempat penderita bekerja agar dapat memberi uang tunjangan kesehatan, juga dengan mengurus dana GAKIN

  1. 5. Ortotik Prostetik

Evaluasi      : –     Wajah tidak simetris

–     Kelopak mata kanan tidak bisa menutup rapat

–     Mulut tertarik ke kiri

Program     :  Saat ini belum diperlukan

  1. 6. Terapi Wicara

Evaluasi      :  –     Kontak (+), pengertian baik

–     Artikulasi baik, tidak ada gangguan dalam bicara

Program     :  Saat ini belum diperlukan

Home Programe :

  1. Perawatan mata :

–     Beri obat tetes mata (golongan artifial tears) 3x sehari

–     Memakai kacamata hitam saat bepergian siang hari

–     Sebelum tidur, kelopak mata ditutup secara pasif

2.   Kompres dengan air hangat pada sisi wajah sebelah kanan selama 20 menit

3.   Massage wajah sebelah kanan ke arah atas dengan menggunakan tangan dari sebelah kiri

4.   Latihan meniup lilin dengan jarak semakin dijauhkan, makan dengan mengunyah di sisi kanan, minum dengan sedotan dan mengunyah permen karet.

FOLLOW UP (2 Februari 2005)

SKALA UGO FISCH

Posisi Nilai Persentase (%)

0, 30, 70, 100

Skor
Istirahat 20 100 20
Mengerutkan dahi 10 70 7
Menutup mata 30 100 30
Tersenyum 30 70 21
Bersiul 10 100 10
Total 88

Mata Kanan :   Lagoftalmus (-)

Epifora (-)

Keterangan :  –    Program fisioterapi dan okupasi terapi tetap dilanjutkan 3x seminggu, lalu dievaluasi. Home programe tetap dilakukan

–   Secara psikologi, penderita tidak merasa malu dan cemas lagi sehingga program psikologi tidak perlu dilanjutkan

–   Masalah biaya pengobatan sudah dapat teratasi, dimana majikan penderita telah memberikan uang tunjangan kesehatan. Jadi program sosial medik tidak perlu dilanjutkan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sabirin J. Bell’s Palsy. Dalam : Hadinoto dkk. Gangguan Gerak. Cetakan I. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 1990 : 171-81
  2. Maisel RH, Levine SC. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam : Adams dkk. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC, 1997 : 139-52
  3. Rusk HA. Disease of the Cranial Nerves. In : Rehabilitation Medicine. 2nd ed. New  York : Mc Graw Hill, 1971 : 429-31
  4. Lumbantobing SM. Saraf Otak : Nervus Fasial. Dalam : Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : FK Universitas Indonesia, 2004 : 55-60
  5. Thamrinsyam. Beberapa Kontroversi Bell’s Palsy. Dalam : Thamrinsyam dkk. Bell’s Palsy. Surabaya : Unit Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR, 1991 : 1-7
  6. Sidharta P. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Edisi ke-2. Jakarta : Dian Rakyat, 1985 : 311-17
  7. Walton SJ. Disease of Nervous System, 9th ed. English : ELBS, 1985 :113-6
  8. Thamrinsyam. Penilaian Derajat Kekuatan Otot Fasialis. Dalam : Thamrinsyam dkk. Bell’s Palsy. Surabaya : Unit Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR,   1991 : 31-49
  9. Raymond D, Adam S, Maurice V. Disease of the Cranial Nerves. In : Principles of Neurology. 5th ed. New  York : Mc Graw Hill, 1994 : 1174-5

10.  Kendall FP, Mc Creary EK. Muscle Testing and Function; 3th ed. Baltimore : William & Wilkins, 1983 : 235-48

11.  Reyes TM, Reyes OBL. Hydrotherapy, Massage, Manipulation and Traction. Volume 2 Philippines : U. S. T Printing Office, 1977 : 78-84, 210

Komentar
  1. kiraitomy mengatakan:

    ooohh,, (manggut-manggut)

  2. bluethunderheart mengatakan:

    lengkap
    manteb
    menarik
    salam hangat dari blue

  3. roy thanos mengatakan:

    pa kabar ? so di mana skarang ? bagus rajin menulis…

    • Seiri Hanako mengatakan:

      hi dokter Oy
      kabar baik, dok
      ini lagi di dunia maya
      hehehehe
      belum ke mana-mana setelah lulus UKDI
      ini cuman postingin case report semasa ko as..
      salam sukse dok..

  4. doetheexplorer mengatakan:

    dok Oy, informasinya sangat membantu.
    Saya 3 hari yang lalu didagnosa Bells PAlsy oleh neurolog (pengalaman pertama langsung ke neurolog, karena gejalanya persis seperti yang dokter uraikan, cuma saya di wajah sisi kiri).. bedanya lagi, sebelum wajah saya kaku, kepala saya sakit hebat sebelah yang kaku selama 3 hari (seperti ciri migrain). Saat sakit kpl senut2 ikut ke bibir dan alis (seperti kesetrum), setelah hari ke-3 bangun pagi baru tanda2 bellspalsy muncul (bibir kiri saya lemah, saya minum kok tiba2 muncrat, belum sadar saya cek dicermin, senyum saya aneh, pas ngomong saya test beberapa kombinasi kata, bibir saya mencong) Kelopak/alis mata saya mulai kaku. Gawat,. malamnya saya langsung ke neurolog. Saya didiangosa dengan pertanyaan dan kesimpulan yang sama dengan dokter Oy. Dokter kasih 3 obat (mecobalamin 500mg) 2×1,Tropidrol 3×2(3days)-3×1(sisanya), dan nonflamin2x1. Kira2 obat ini untuk apa ya (dokter bilang untuk mengurangi radang di otak syaraf ke-7, dan vitamin otak). Saya terapi awal (at home, suruh kompres angat 2xsehari). Suruh balik lagi 1 minggu (abisin obat). Tapi lamanya nunggu 1minggu…dari situt aku baca, katanya harus cepat2 terapi saat golden period days, biar gak terlalu parah recoverynya. Apakah saya gak terlambat nunggu 8 hari baru ke tahap pemanasan (infra-red or diathermy, or setrum listrik). Kalo melihat ekpresi wajah say sih kalo lagi diam, normal2 aja (tidak turun,.. jadi gak terlihat parah), cuma kalo dah ngomong agak beda, dan kalo kedip/tutup gak bisa.
    Please saran nya ya dok.
    Thanks.

    • adit mengatakan:

      Salam kenal,
      Saya adit umur 25 tahun. Saya terkena penyakit bell’s palsy tepat 5 hari yang lalu (rabu, 18 Agustus 2010). Namun ketika itu saya masih bisa menutup kelopak mata saya yang terkena (hanya agak susah saja). Senam otot muka sangat berpengaruh mas + minum obat mecobalimin 500 mg sesuai petunjuk dokter.Saya baru dari dokter cukup, 2 hari saya sudah merasakan perubahan yang cukup signifikan. Namun apabila mas masih tidak bisa menutup kelopak mata saya sarankan langsung saja masuk ke tahap fisioterapi (sekalian mengkonsumsi obatnya),,Oya saya cukup banyak mengkonsumsi airputih & (bawang putih dicampur minyak zaitun)

      semoga membantu,
      Salam hangat

  5. marsha mengatakan:

    Ada terapi modalitas lain yaitu memakai sinar Laser (Low Level Laser Therapy) yg cukup efektif untuk mempercepat regenerasi sel saraf Facialis yg denervasi parsial.
    Demikian info..

  6. Rita mengatakan:

    Makasih infonya,dok.6 tahun yg lalu sy kena BP juga udah sembuh tapi skrg tanda2 nya muncul lg.mungkin ga BP rekuren sifatnya?

  7. dias purwati mengatakan:

    salam kenal kak…..
    ak mahasiswi okupasi terapi,mw tny penilaian skala ugo fisch itu gmn?
    maksunya keterangan dari skor akhirnya gmn

    makasih

  8. andri.s mengatakan:

    salam kenal buk dr Seiri Hanako

    saya mendrita Bells PAlsy sejak usia 5 tahun menurut informasi dari orang tua saya dulu saya terjatuh dari tangga dan berakibat Bells PAlsy sekarang saya sudah berusia 30 th yang ingin saya tanyakan apak masih ada kemungkinan sembuk,

    masalah yang saya hadapi sekarang leher sama wajah bagia kiri saya sering nyeri dan kesumutan apa bila saya sering melakukan aktifitas bicara hal ini sangat menggagu saya mengingat pekerjaan yang saya jalankan sekarang tidak lepas dari aktifitas tsb

    mohon kiranya bisa dibantu untuk alamat dan kontek ibu hp,ym,fb atau pun email

    trimakasih

    081 395127695

    • hariyadi mengatakan:

      bapak bisa melakukan terapi wajah seperti
      *Tersenyum
      * Mencucurkan mulut, kemudian bersiul
      * Mengatupkan bibir
      * Mengerutkan hidung
      * Mengerutkan dahi
      * Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual
      * Mengangkat alis secara manual dengan jari
      * Menutup mata
      sehari dilakukan 3-5 kali tapi yg paling penting adalah kualitas dari latihannya

      untuk rasa nyeri bapak bisa mengkonsumsi obat anti nyeri.

  9. irwan mengatakan:

    good day docter
    saya kena bell’s palsy dah 2 bln ,. mata saya dah bisa kedip2 tapi blm bisa tertutup rapat ,.
    klu muka 95 % dah mormal ,. tapi klu ngomong bibir ku agak miring & tertawa pun begitu karna pipi ku blm bisa naik ke atas,.. yg saya mau tanya apa Bp masih bisa sembuh ?
    karna dah 2 bln saya fisioterapi sedikit sekali kemajuan nya ,.

  10. Ray Setya mengatakan:

    tulisan yang menarik,

    Saya ingin bertanya, scoring Ugo Fisch ini apakah hanya di Indonesia?
    Saya coba cari di internet UF score semuanya bahasa Indonesia, kalau di barat justru memakai house brackmann score.

    Mungkin dokter ada pendapat?

    thanks before.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s