Ulkus Kornea

Posted: Maret 26, 2010 in Mata
Tag:,

Dalam keadaan normal kornea adalah transparan. Transparansi ini disebabkan oleh tidak adanya pembuluh darah dan jaringan kornea yang strukturnya seragam, serta berfungsinya mekanisme pompa oleh endotel. Penyakit kornea adalah penyakit yang serius karena penanganan yang tidak sempurna atau terlambat akan mengakibatkan gangguan penglihatan permanen berupa peglihatan yang kabur ringan hingga kebutaan.1

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma serta hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk tukak pada kornea yaitu sentral dan marginal atau perifer.2,3

Tukak kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Stafilokokkus aureus dan H. influenza.3

Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang baik dibantu slit lamp, sedangkan kasusnya atau penyebabnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskopik dan kultur.2

Beratnya penyakit juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien, besar dan virulensi inokulum. Selain radang dan infeksi penyebab lain pada tukak kornea ialah defisiensi vitamin A, lagoftalmus akibat parese saraf ke VIII, lesi saraf ke III atau neurotrofik dan ulkus Mooren.3

Penyebab tukak kornea adalah bakteri, jamur, akantamuba dan herpes simpleks. Bakteri yang sering mengakibatkan tukak kornea adalah Streptokokkus Alfa Hemolitik, Stafilokokkus Aureus, Moraxella Likuefasiens, Pseudomonas Aeruginosa, Nocardia Asteroides, Alcaligenes sp., Streptokokkus Anaerobik, Streptokokkus Beta Hemolitik, Enterobakter Hafniae, Proteus sp, Stafilokokkus epidermidis, infeksi campuran erogenes dan Stafilokokkus Aureus, Moraxella sp. dan Stafilokokkus Aureus, Streptokokkus Alfa Hemolitik dan Stafilokokkus Aureus.3

Pada tukak kornea yang disebabkan oleh bakteri akan terdapat defek epitel yang di kelilingi  leukosit polimorfnuklear. Perjalanan penyakit tukak kornea dapat progresif, regresi atau membentuk jaringan parut. Pada proses kornea yang progresif dapat terlihat infiltrasi sel leukosit dan limfosit yang memakan bakteri atau jaringan nekrotik yang terbentuk.3

Tukak kornea biasanya terjadi sesudah terdapatnya trauma enteng yang merusak epitel kornea. Tukak kornea akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan buruk, serta memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang diberi pewarnaan fluoresin akan berwarna hijau ditengahnya. Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang pada kornea.3

Ulkus kornea mengharuskan segera ditegakkannya diagnosis dan pemberian pengobatan yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat, oleh karena itu pengenalan tentang mikro-organisme penyebabnya dan gambaran klinik serta penanganannya merupakan hal yang perlu diketahui.1

Tukak kornea dapat meluas kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Ulkus yang kecil dan superficial akan lebih cepat sembuh, kornea dapat jernih kembali. Pada ulkus yang menghancurkan membran Bowman dan stroma, akan menimbulkan  sikatriks kornea.1

Gejala subyektif pada tukak kornea sama seperti gejala-gejala keratitis. Gejala obyektif berupa injeksi siliar, hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion.1,4

Tujuan penatalaksanaan ulkus kornea adalah eradikasi bakteri dari kornea, menekan reaksi peradangan sehingga tidak memperberat destruksi pada kornea, mempercepat penyembuhan defek epitel, mengatasi komplikasi serta memperbaiki tajam penglihatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian terapi yang tepat dan cepat sesuai dengan kultur serta hasil uji sensitivitas mikroorganisme penyebab. Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabanya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskuler. Penyembuhan yang lama mungkin juga mempengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila terjadi gangguan ketaatan penggunaan antibiotik maka dapat menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi.2

TUKAK KORNEA OLEH BAKTERI

Bakteri yang ditemukan pada hasil kultur tukak dari kornea yang tidak ada faktor pencetusnya (kornea yang sebelumnya betul-betul sehat) adalah:1,5,6

v      Streptokokkus Pneumonia

v      Streptokokkus Alfa Hemolitik

v      Pseudomonas Aeroginosa

v      Klebsiella Pneumonia

v      Spesies Moraxella

Sedangkan dari tukak kornea yang ada faktor pencetusnya adalah bakteri patogen oportunistik yang biasa ditemukan dikelopak mata, kulit periokular, sukus konjungtiva, atau rongga hidung yang pada keadaan sistem barier kornea normal tidak menimbulkan infeksi.1,4

Bakteri pada kelompok ini adalah:

v      Stafilokokkus Epidermidis

v      Streptokokkus Beta Hemolitik

v      Proteus

Tukak Streptokokkus

Bakteri kelompok ini yang sering dijumpai pada kultur dari infeksi tukak kornea adalah:1

v      Streptokokkus Pneumonia (Pneumokokkus)

v      Streptokokkus Viridans (Streptokokkus Alfa Hemolitik)

v      Streptokokkus Pyogenes (Streptokokkus Beta Hemolitik)

v      Streptokokkus Faecalis (Streptokokkus Non-Hemolitik)

Walaupun Streptokokkus Pneumonia adalah penyebab yang biasa terdapat pada keratitis bacterial, akhir-akhir ini prevalensinya banyak digantikan oleh Stafilokokkus dan Pseudomonas. Tukak oleh Streptokokkus Viridans lebih sering ditemukan mungkin disebabkan karena Pneumokokkus adalah penghuni flora normal saluran pernafasan sehingga terdapat semacam kekebalan. Streptokokkus Pyogenes walaupun seringkali merupakan bakteri patogen untuk bagian tubuh yang lain, kuman ini jarang menyebabkan infeksi kornea.1,3

Tukak oleh Streptokokkus Faecalis didapatkan pada kornea yang ada faktor pencetusnya.1

Gambaran Tukak

Adalah khas, sebagai tukak yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Tukak berwarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi tukak yang menggaung. Tukak cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena oksotoksin yang dihasilkan oleh Streptokokkus Pneumonia.1

Pengobatan

  • Cefazolin : 75-100 mg/ml (topikal)

100 mg/0,5 ml/dose (subkonjungtival)

15 mg/kgBB dalam 4 dosis (IV)

  • Basitrasin :10.000 unit/ml (topikal)7

Tukak Stafilokokkus

Infeksi oleh Stafilokokkus paling sering ditemukan. Dari 3 spesies Stafilokokkus Aureus, epidermidis dan saprofitikus, infeksi oleh Stafilokokkus Aureus adalah yang paling berat, dapat dalam bentuk:1,3

v      Infeksi tukak kornea sentral

v      Infeksi tukak marginal

v      Tukak alergi (toksik)

Infeksi tukak kornea oleh Stafilokokkus epidermidis biasanya terjadi bila ada faktor pencetus sebelumnya seperti keratopati bulosa, infeksi herpes simpleks dan lensa kontak yang telah lama digunakan.1

Gambaran Tukak

Pada awalnya berupa tukak yang berwarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat di bawah defek epithel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion tukak seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Tukak kornea marginal biasanya bebas kuman dan disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap Stafilokokkus Aureus.1

Tukak Pseudomonas

Berbeda dengan tukak kornea sebelumnya pada tukak Pseudomonas bakteri ini ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Bakteri Pseudomonas bersifat aerob obligat dan menghasilkan eksotoksin yang menghambat sintesis protein. Keadaan ini menerangkan mengapa pada tukak Pseudomonas jaringan kornea cepat hancur dan mengalami kerusakan. Bakteri Pseudomonas dapat hidup dalam kosmetika, cairan fluoresein, cairan lensa kontak.1,3

Gambaran tukak

Biasanya dimulai dengan tukak kecil dibagian sentral kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan  disertai edema epitel dan stroma. Tukak kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi kornea. Tukak mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.1,3

Pengobatan

  • Gentamisin : 3-8 mg/ml (topikal),

20 mg/0,5 ml/dose (subconjungtival)

  • Tobramisin : 14 mg/ml (topikal)

20 mg/0,5 ml/dose (subconjungtival)

  • Karbenisilin : 4 mg/mL (topikal)

125 mg/0,5 ml/dose (subconjungtival)

100-200mg/kgBB dibagi dalam 4 dodis (IV)7

Manifestasi Klinis Ulkus Kornea

Mata merah, sakit ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Pada pemeriksaan terlihat kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel. Iris sukar dilihat akibat edema kornea dan infiltrasi sel radang pada kornea. Dapat disertai penipisan kornea, lipatan descemet, reaksi jaringan uvea berupa flare, hipopion, hifema, dan sinekia posterior.4,6

Diagnosa Ulkus Kornea

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah :4

Ketajaman penglihatan

Tes refraksi

Tes air mata

Pemeriksaan slit-lamp

Keratometri

Respons refleks pupil

Goresan ulkus untuk analisa atau kultur

Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi

Pengobatan

Pengobatan bertujuan menghalangi hidup bakteri dengan antibiotik dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Diberikan sikloplegik serta antibiotik topikal dan subkonjungtiva yang sesuai. Pasien dirawat bila terancam terjadi perforasi, tidak dapat memberi obat sendiri, dan bila penyakit berat sehingga diperlukan obat sistemik. Mata tidak boleh dibebat, pembersihan sekret dilakukan 4 kali sehari, dan berhati-hati terhadap glaukoma sekunder. Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelisasi dan mata terlihat tenang. Bila penyebabnya Pseudomonas pengobatan harus ditambah 1-2 minggu.6

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ilyas S., Maylangkay B. H. H., Ulkus Kornea. Ilmu Penyakit mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Edisi Ke-2. Sagung Seto, Jakarata. 2002. Hal : 131-134.
  2. Widodo F., Suhadjo., Dewi M., Tingkat Keparahan Ulkus Kornea di RS Dr. Sardjito Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier.
  3. Ilyas S., Ulkus Kornea. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. FKUI. Jakarata.2006. Hal : 159- 160.
  4. Medicastore., Ulkus Kornea.
  5. Hilmansyah H., 8 Ragam Penyakit Mata.
  6. Mansjoer A., Triyanti K., Ulkus Kornea. Kapita Selekta Kedokteran.Edisi Ke-3. Media Aesculapius. FKUI. Jakarta. 2001. Hal : 56- 57.
  7. McLeod D. S., Infectious keratitis, in : Ophthalmology. 2nd Edition. California. 1999. Hal : 473.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s