Musim hujan tiba n ada kebiasaan dari masyarakat tempatku bertugas untuk berburu kodok sawah
buat dijadikan lauk n di konsumsi. Konon kodok memang enak apalagi jika dapat yang pahanya gemuk. Dalam kuliner China kodok biasanya diolah dengan ragam masakan yang lebih bervariasi dibanding dengan di daerahku yang biasanya orang lebih suka ‘Kodok Rica-rica’. Cara bikin kodok rica-rica ini pun gampang; tinggal siapkan bumbu-bumbunya dan diolah dengan suhu tinggi dan waktu yang singkat. Peternakan kodok sendiri masih sangat jarang di sini karena mungkin orang-orang daerah ini lebih menikmati perburuan kodok yang dirasa lebih seru.
Bagaimana tidak, untuk berburu kodok ini kadang melibatkan momen-momen terjungkal di lahan sawah yang bisa mengundang gelak tawa dan kemudian menjadi bahan tertawaan sepanjang jaman (halah… ini mah lebay).
Waktu kecil dulu sempat makan kodok rica-rica ini. Enak sih rasanya, tapi kalo sekarang dah nggak mau lagi karena ‘haram hukumnya’. Memang sih, dalam 3 tahun belakangan daku telah mulai menerapkan ‘Kosher’ yaitu menu makanan menurut tatacara Yahudi yang lebih sehat dari pada menu ‘Babilonia’ yang sarat penyakit n bisa bikin mati muda. Umm btw buzzwey, sekarang kan lagi nggak membahas menu ‘Kosher’ vs ‘Babilonia’.. nanti aja di sesi yang laen deh. Soalnya kalo mo bahas yang itu bagusnya disertai dengan hasil riset biar tokcer ngomongnya (^_^)V
Lanjut dengan kodoknya,
Menurut Wikipedia, kodok yang sering dijumpai di daerah berawa, khususnya dekat lingkungan buatan manusia seperti kebun yang becek, lahan persawahan, saluran air; namun agak jarang di aliran sungai . Juga merupakan satu-satunya jenis amfibia modern yang mampu hidup di daerah yang berair payau dan hutan bakau.
Kebanyakan aktif di waktu gelap dan pagi hari, di siang hari kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air; dan tiba-tiba melompat ke air apabila hendak terpijak. Pada malam hari, terutama sehabis hujan turun, kodok jantan berbunyi-bunyi memanggil betinanya dari tepi air: …dododododok.. dododok, dengan ritme cepat. Namun alih-alih berbunyi bersama, kodok-kodok jantan ini saling menyendiri. Serupa halnya dengan kodok batu (Limnonectes macrodon), kodok ini sering dicari orang untuk diambil pahanya yang gemuk, untuk dijadikan masakan swike (swie kee, ayam air) yang lezat di restoran tionghoa.
Kodok sawah menyebar luas mulai dari Indochina, Hainan, Semenanjung Malaya, sampai ke Fili[ina, Kalimantan, Sulaweisi dan Nusa Tenggara, jauga telah ditemukan sampai ke wilayah Papua.
Pengen tahu resep masakan ‘Kodok Rica-Rica’? nanti akan di posting di postingan yang akan datang…



so pingin makang kodok …
ada kodok di pinggrir kali … (susan mode on) .. hehehe…. yang unik dari kodok, kalo di goreng jadi tere samua dorang pe kaki… wkwkwkwkw…. mar sadaph noch in hewan 1 ini ….
wow..baru tahu tuh nama diet babilonia…kalo tentang romansa kodok sih, aku ingat, kadang kangen juga denger kodok berisik habis hujan di kampung..kalo di kota kagak ada barang2 begituan…adanya cuma pangeran kodok..wkwkwk..
Mantap jheunk, lanjutkan jheunk. tapi sayang kagak ada resepnya yach jheunk.
kong btw sapa dang yang jadi model pangeran kodok itu?
trus ini gambar di ambil dari mana? hasil perburuan di kobong? aduuuh asyiik ehh….
Ado ii posting beking dapa inga waktu tugas di Motoling… Memang asik kalo makan kodok, apalagi kalo so lapar…
kodok ?? Ga deh mba…aku geli ma kodok.. Iiiih
eleh kodok pe enak, apaleh Ular yang ja makang kodok… tantu lebeh enak itu!! hihihi
so palin sadap,kodok deng soa-soa.co ngoni rasa kwk,!
jangan di makan kodoknya…..:)
kan kk bilang haram….hehehehehe:D
nggak ku makan koq
ini kan cuman tulisan saja:)